Selasa, 17 Agustus 2010

Tips Menurunkan Berat Badan

Saat ini banyak sekali iklan yang menawarkan program diet dan penurunan berat badan secara cepat dan mudah, hanya beberapa hari bisa turun beberapa kg. Apakah benar bisa seperti itu? Pada kenyataannya, cara diet dan menurunkan berat badan tidaklah semudah seperti kata iklan. Butuh banyak perjuangan untuk bisa menurunkan berat badan anda. Kalaupun ada program diet dan penurunan berat badan yang bisa cepat, anda harus cari tahu apakah program tersebut sehat dan baik bagi kesehatan anda? Untuk itu anda harus tahu tips diet sehat dan cara menurunkan berat badan secara sehat.

Program diet dan penurunan berat badan yang sehat tidak hanya membuat anda terlihat dan merasa lebih baik, tetapi juga akan mempengaruhi kesehatan anda di kemudian hari. Memiliki berat badan yang ideal menurunkan kemungkinan anda terserang penyakit berbahaya seperti serangan jantung atau diabetes. Berikut adalah beberapa tips diet sehat - cara menurunkan berat badan.

Cara makan sehat untuk menurunkan berat badan :

* Makanlah dengan santai, dan nikmati setiap gigitan, bau, dan rasa dari makanan anda.
* Cobalah untuk tidak makan sambil bekerja, menonton televisi, membaca, menggunakan komputer, atau mengemudi.
* Cobalah cari pengalaman makan yang baru, misal mencoba makan menggunakan sumpit daripada menggunakan garpu.
* Kunyah makanan lebih lama, kurang lebih 30 kali sebelum ditelan.
* Berhenti makan sebelum kenyang. Untuk menghindari anda makan terlalu banyak maka biasakan anda makan menggunakan piring yang berukuran kecil.
* Jika anda merasa sudah makan dengan porsi yang cukup tetapi masih sedikit merasa lapar, tambah dengan makanan ringan yang sehat.

Makanan dan minuman sehat untuk menurunkan berat badan :

* Fokus pada buah-buahan dan sayuran. Kadar air dan serat yang tinggi, juga kandungan vitamin dan nutrisi dalam buah-buahan dan sayuran dapat membantu kesehatan dan vitalitas tubuh secara keseluruhan.
* Beralih dari karbohidrat sederhana ke karbohidrat kompleks. Kurangi makanan roti putih dan nasi putih, makanlah lebih banyak gandum (roti gandum atau beras gandum). Gandum mampu memberi energi jangka panjang dan memberi rasa kenyang lebih lama karena memiliki kandungan serat yang tinggi.
* Pilihan protein. Protein memberikan rasa kenyang lebih lama daripada karbohidrat, namun kurangi konsumsi protein hewani seperti daging sapi karena daging sapi juga mengandung banyak lemak. Ganti dengan protein berkualitas dari biji-bijian yang tidak mengandung lemak seperti buncis dan kacang.
* Minum air lebih banyak. Ganti minuman soda, alkohol, atau kopi dengan air putih. Selain menghindari konsumsi kalori ekstra, juga membantu pencernaan makanan lebih mudah.
* Minum multivitamin jika anda merasa nutrisi yang anda konsumsi kurang.

Gaya hidup sehat untuk menurunkan berat badan :

* Olahraga. Tidak hanya untuk membakar kalori, olahraga juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh. Tidak dibutuhkan waktu lama dan hanya olahraga ringan seperti naik tangga, hanya 3 X 10 menit dalam sehari sudah cukup untuk membuat tubuh anda sehat.
* Tidur cukup. Orang yang kurang tidur memiliki resiko tinggi obesitas karena membuat tubuh merasa lapar. Kebutuhan tidur setiap orang berbeda tetapi rata-rata sekitar 8 jam.
* Matikan televisi. Aktivitas menonton televisi membakar lebih sedikit kalori daripada tidur. Jika memang anda harus menonton televisi, lakukan sambil berolahraga ringan misal sit-up atau jogging di tempat.
* Memasak sendiri makanan anda, sehingga bisa mengontrol bahan-bahan dalam makanan. Pada umumnya restoran menggunakan lebih banyak sodium, lemak, dan kalori dalam makanan.
* Tidak belanja di saat lapar, dan simpan makanan yang menggoda selera di tempat yang tidak mudah terlihat oleh mata.
* Makan lebih sedikit dan lebih sering, lebih baik daripada makan jarang namun dengan porsi yang besar.(sumber)
author : Adhi Prabowo.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Tips Meraih Cinta dan Hati Wanita

Hati seorang wanita bisa didapatkan seorang pria dengan berbagai cara. Wanita yang memiliki kualitas yang baik baik dari segi fisik maupun intelektual akan lebih sukar ditaklukkan dibandingkan yang memiliki jasmani dan rohani yang biasa-biasa saja. Karena kebanyakan laki-laki pada dasarnya menyukai cewek yang berkualitas dan jumlah wanita yang memiliki kualitas yang baik jumlahnya terbatas, maka persaingan untuk mendapat cinta perempuan idaman antar lelaki adalah hal yang lumrah dalam dunia percintaan.

Berikut ini adalah faktor atau hal yang disukai wanita / gadis / perempuan / cewe dari seorang laki-laki pada umumnya :

1. memiliki finansial / uang yang baik.
2. memiliki penampilan fisik yang baik.
3. memiliki pekerjaan serta masa depan yang cemerlang.
4. memiliki kepandaian / intelektual yang baik.
5. memiliki kemampuan memimpin dan membina rumah tangga yang baik.
6. memiliki sikap dan perilaku yang terpuji.
7. memiliki kesamaan pola pikir, visi dan misi.
8. memiliki latar belakang keluarga dan kehidupan yang baik.
9. memiliki kontak / komunikasi yang menyenangkan, dll.

Sudah barang tentu hal-hal di atas tidak banyak dimiliki oleh seorang pria dalam satu paket. Lelaki semacam itu sangat didambakan oleh banyak wanita. Sama pula dengan laki-laki, perempuan juga memburu lelaki yang memiliki kriteria di atas, dan karena jumlahnya terbatas maka persaingan pun terus terjadi dari waktu ke waktu tanpa henti.
"More"

Untuk mendapatkan hati dan cinta seorang gadis maupun janda yang diinginkan maka paling sedikit jomblowan / jomblo pria harus memiliki hal-hal di bawah ini :

1. Kesungguhan dan keseriusan hati bahwa si cowok sayang dan cinta pada si cewek.
2. Setia / kesetiaan yang dapat ditunjukkan.
3. Jujur / kejujuran hati yang hakiki dan tidak dibuat-buat.
4. Sikap dan perilaku yang baik terhadap orang lain.
5. Masa depan yang terlihat cerah.
6. Komunikasi yang menyenangkan dengan cewe yang menjadi target.

Jadi tidak selamanya fisik menjadi yang diunggulkan dibandingkan hati. Wanita yang tadinya hanya mengejar prestise dari sang lelaki mungkin dapat disadarkan bahwa uang bukanlah segalanya. Wanita yang belum tersadar akan sulit untuk didekati. Sehingga jika anda termasuk yang pas-pasan atau di bawah standar perlu berfikir ulang untuk menaklukkan wanita tersebut.

Kebahagiaan adalah kunci sukses merangkai masa depan yang cemerlang. Tunjukkan kalau anda adalah cowo yang serius dan memiliki sikap dan perilaku yang baik tidak banyak laki-laki lain yang memilikinya. Buat kondisi dan suasana yang menyenangkan ketika si wanita itu berhubungan dengan kita sehingga si dia nyaman untuk curhat, ngobrol ngalor ngidul, dn lain-lain. Buat komunikasi yang ada datangnya dari hati yang terdalam, bukan dibuat-buat.

Kebahagiaan positif dalam menjalani hidup di dunia dapat diraih dengan :
- keluarga berkualitas yang sakinah mawahdah warohmah
- istri yang shalihah dan anak-anak yang saleh.
- hidup sederhana berkecukupan dan tidak serakah harta.
- disukai dan punya banyak teman yang siap membantu di kala kesulitan.
- memiliki bekal yang cukup untuk kehidupan selanjutnya di akherat.
- memiliki cita-cita tinggi dan berusaha mencapainya dengan cara yang sehat dan baik.
- menjadi diri sendiri, tidak pura-pura di depan orang lain.
- hobby membantu orang lain dan senang melihat orang lain senang.

hal yang harus dijauhkan ketika memilih wanita / perempuan untuk pendamping hidup :
- hanya melihat fisik saja tanpa melihat sifat, sikap dan perilaku.
- terburu nafsu dalam mengambil keputusan penting.
- memilih cewek yang memiliki sifat buruk seperti serakah, matre, jahat, kejam, dsb.
- memiliki agama yang berbeda demi masa depan yang tenang dan damai.
- memiliki penyakit lahir maupun batin yang di luar batar wajar.
- menutupi sifat aslinya yang hanya memperlihatkan sandiwara kepura-puraan.
- tidak suka anak kecil / bayi.
- manja tidak mau kerja keras dan hanya mengandalkan orang lain.
- tidak mau mendengar kritik, saran, masukan, komentar alias egois, kepala batu.
- punya emosi yang tinggi tidak terkontrol.
- taat agama dan mau diatur suami.

Dengan demikian wanita/perempuan/gadis/janda/cewek yang sudah nyaman dengan kita akan malas untuk mencari pengganti kita dan selanjutnya terserah anda. Wanita tidak suka dibohongi dan berlakulah seperti apa adanya tanpa dibuat-buat. Sekian tip / pedoman dari saya, apabila ada masukan, kritik dan saran silahkan saja gunakan fitur komentar yang ada. Terima Kasih. (Sumber)

Senin, 09 Agustus 2010

Dibalik Belaian Hati

Waktu ku itu waktumu
Setiap detik terus berlalu
Bersama mu tenggelam di alam rindu
Menuju awan biru

Air laut berjalan dengan lembut
Angin angin berlari dengan indahnya
Burung-burung menari dengan sayapnya
Bersatu padu tuk mencari misteri belaian hati

Sungguh benar benar aneh
Tiada yang aneh selain yang tersembunyi
Dibalik dirimu menyimpan seribu bahasa cinta
Dibalik diriku terkadang menuju sejuta kasih sayang
Kan kumantapkan diriku dengan kasih sayang 70
Ya Ilahi Robby tunjukkan lah diriku dengan kasih sayang penuh keyakinan cinta
cintamu kepadaku benar benar gila
cintamu kepadaku kan kutangkap dengan belaian hati
Memang terasa aneh dibalik belaian hati

Minggu, 01 Agustus 2010

Memanusiawikan Perpustakaan, Sebuah Paradigma

MENYEBUT kata perpustakaan, maka yang terbayangkan adalah deretan buku rapi tertata di rak. Nyaris tak pernah melibatkan pembaca yang justru menjadi penentu hidup matinya sebuah perpustakaan. Pengawasan yang sangat ketat pada perpustakaan telah menempatkan pengunjung dalam posisi calon terdakwa.
Perpustakaan, memang sudah saatnya diberikan wajah yang manusiawi. Sudah harus dihentikan cara-cara mencurigai pengunjung perpustakaan bagaikan pelaku kriminal, sementara pada saat yang sama minat baca bangsa ini masih belum menggembirakan. Memahami perpustakaan ada baiknya ditempatkan sebagai kata kerja, atau setidaknya memandangnya sebagai sesuatu yang hidup, yang tumbuh dan berkembang, dan bukan semata-mata berujud sebuah ruang yang penuh dengan deretan rak penuh buku.

Apa yang selama ini dipelajari oleh kalangan pustakawan adalah bagaimana membuat sistematika koleksi buku yang jelas, rapi dan teratur. Katalogisasi menjadi syarat utama, sehingga tanpa menguasai ilmu itu, seolah-olah seseorang tak berhak menyandang sebutan pustakawan. Itulah sebabnya sistematika penyusunan koleksi buku di perpustakaan seluruh dunia lantas menjadi (dan memang dibuat) sama. Sampai dengan tata cara penulisan nama orang pun, dibuat dengan cara terbalik sebagaimana tradisi budaya Barat. Padahal, sistem nama di Indonesia justru kebalikannya.

Karena koleksi buku menjadi perhatian yang utama, maka keberadaan buku dijaga sedemikian rupa agar tidak sampai rusak atau hilang. Pengunjung perpustakaan harus menitipkan tas dan jaket di dekat pintu masuk. Pengawasan yang dilakukan terhadap pengunjung seringkali sangat berlebihan, kalau perlu menggunakan kamera monitor yang dipasang di sudut-sudut rahasia. Sehingga, perpustakaan tak ubahnya sebuah pusat pertokoan (plasa) dengan penjagaan satpam yang garang.

Seringkali mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), atau apapun namanya, menulis di surat pembaca, meminta bantuan buku untuk membangun perpustakaan di desa setempat. Mereka hanya berpikir tentang bagaimana menghadirkan sebuah ruangan yang diisi dengan koleksi buku atau bacaan lain. Namun yang belum dipikirkan adalah, apakah masyarakat setempat memang sanggup menghidupkan perpustakaan sebagai tempat mencari informasi?

Kalau perpustakaan hanya semata-mata dimaknai sebagai kumpulan buku, katalogisasi dan perangkat keras lainnya, maka makna perpustakaan tak ubahnya bagaikan gudang buku. Perpustakaan yang seperti ini tidak memberikan ruang yang memadai bagi eksistensi pembacanya. Pengunjung perpustakaan disamakan dengan pengunjung mal atau plaza, yang harus dicurigai, diawasi dan diperlakukan sebagai orang luar

Padahal, jujur saja, sesungguhnya hakekat sebuah perpustakaan adalah habitat masyarakat pembaca. Kalau perpustakaan hanya dimaknai sebagai “sebuah ruang penuh dengan buku”, maka lebih baik ada masyarakat pembaca tanpa perpustakaan daripada dibangun perpustakaan namun tidak ada yang berminat memanfaatkannya. Dan sebuah habitat pembaca ini, tetap akan mencari buku atau bahan bacaan, ada atau tidak ada perpustakaan. Sebagaimana sebuah habitat, kebutuhan terhadap buku, informasi dan ilmu pengetahuan akan tetap terus tumbuh dan berkembang tanpa tergantung pada perpustakaan.

Pada tataran ini, habitat pembaca di sebuah desa misalnya, bisa jadi hanya butuh majalah dinding atau koran yang ditempel di papan. Komunitas ini mungkin cukup membaca majalah, koran atau buku koleksi teman-teman sendiri. Karena mereka butuh, maka cenderung ada upaya untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Dengan demikian, kalau saja ada perpustakaan, maka komunitas pembaca seperti itu ibarat murbaut bertemu sekrup.

Komunitas pembaca buku seperti itu sebetulnya dapat dibangun setelah ada perpustakaan. Kalangan pengunjung setia sebuah perpustakaan dapat diorganisasi untuk membentuk kelompok pembaca, kemudian mengatur kegiatannya sendiri dengan semangat menjaga dan menghidupkan perpustakaan yang sama-sama mereka butuhkan selama ini.

***
KALAU dikaji satu persatu problema perpustakaan selama ini adalah sebagai berikut:
Pertama adalah soal keamanan koleksi buku. Dengan adanya Kelompok Pembaca Buku (KPB, katakanlah begitu) dapat meminimalisasi risiko kehilangan buku koleksi perpustakaan. Setiap anggota KPB yang akan meminjam buku diwajibkan harus ada beberapa orang yang siap menanggung risikonya bilamana buku itu hilang atau rusak. Sistem ini meniru cara yang dilakukan di koperasi, yakni yang disebut gandeng renteng.

Memang tidak semua pengunjung perpustakaan yang bersedia menjadi anggota KPB dengan berbagai alasan yang mungkin dapat diterima. Meski demikian, KPB tetap dapat berfungsi untuk membantu mengawasi keberadaan buku koleksi perpustakaan tanpa harus mencurigai pengunjung secara berlebihan. Pengawasan melekat yang dilakukan oleh sesama pengunjung perpustakaan ini jauh lebih manusiawi dan lebih efektif ketimbang berhadapan dengan petugas satpam.

Kedua, tenaga pustakawan sangat terbatas. Dengan adanya KPB dapat membantu tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh petugas perpustakaan. Pihak pengelola dapat berunding secara baik-baik, bidang-bidang kerja apa saja yang memungkinkan dilakukan oleh anggota KPB. Mereka tentu senang mengerjakannya karena hal itu merupakan cerminan rasa ikut memiliki perpustakaan yang mereka cintai. Apalagi kalau pihak pengelola perpustakaan mau membuka kesempatan bagi kalangan pelajar untuk menjadi relawan mengelola perpustakaan ketika pelajar sedang liburan. Dalam hal ini KPB dapat mengorganisasikannya.

Ketiga, koleksi buku terbatas. Hal ini dapat diatasi secara kelembagaan oleh KPB. Mereka dapat bekerjasama dengan penerbit sehingga selalu mendapatkan kiriman buku-buku baru secara gratis dengan kompensasi yang dapat dirundingkan kemudian. Bukan tidak mungkin pihak penerbit akan dengan suka hati memberikan buku dalam jumlah yang cukup banyak, baik gratis atau memberikan potongan yang cukup besar bagi anggota KPB. Bahkan, KPB juga dapat secara patungan membeli buku-buku baru untuk koleksi bersama di perpustakaan tersebut.

Selama ada kerelaan dari pihak pengelola perpustakaan untuk memberikan rasa ikut memiliki, maka KPB akan dengan senang hati membantu pengadaan koleksi buku. Mereka dapat bergerak leluasa menghubungi pihak-pihak lain, baik instansi ataupun perorangan yang bersedia menyumbangkan buku untuk perpustakaan. Selama ini pengelola perpustakaan cenderung pasif, hanya menunggu partisipasi dari pihak lain. Tanpa bermaksud mengecilkan upaya yang sudah mereka lakukan, namun tetap diperlukan upaya lain yang lebih kreatif dan dengan cara menjemput bola.

Satu hal lagi, ada semacam kewajiban bahwa setiap anggota KPB harus menyerahkan daftar buku (hanya daftarnya) yang menjadi koleksi pribadinya. Daftar ini dikumpulkan dan disusun secara sistematis sehingga dapat menjadi katalog buku tanpa harus ada buku di perpustakaan. Cara ini (sebut saja Perpustakaan Katalog) merupakan langkah kreatif untuk mengatasi keterbatasan koleksi buku. Bagi yang ingin meminjamnya, harus menjadi anggota KPB atau dengan sistem gandeng renteng tersebut di atas.

Keempat, minat baca masih rendah. Itulah sebabnya perlu dibentuk KPB agar dapat menularkan virus senang membaca. Sebagai langkah awal, tidak perlu dalam jumlah besar anggotanya. Namun diperlukan pengelolaan yang dinamis dengan bantuan pihak pengelola perpustakaan. Rendahnya minat baca ini (meski tidak sepenuhnya benar) memang menjadi masalah klasik. Kebutuhan masyarakat terhadap informasi dan ilmu pengetahuan selama ini memang tidak hanya didapat dari buku. Justru banyak media lain yang lebih efektif, mudah dan murah serta lebih menyenangkan dibanding harus membaca buku.

Dalam kaitan ini kalangan pustakawan harus bersikap legawa bahwa kemajuan teknologi informasi telah berlangsung sedemikian cepat. Perpustakaan memang seharusnya tidak hanya berisi buku-buku konvensional belaka, melainkan ada kaset audio, video, VCD, foto dan slides serta berbagai bentuk dokumentasi lainnya. Dalam perkembangannya sekarang, perpustakaan sudah menyediakan internet sebagai sarana untuk mencari informasi yang canggih.

Kelima, tidak ada dana yang memadai untuk mengembangkan perpustakaan agar dapat menyediakan sarana yang memenuhi standar. Persoalan dana ini memang klise dan cenderung hanya menadahkan tangan tanpa ada upaya menjemput bola. Kalau saja pustakawan dapat mengefektifkan keberadaan KPB maka lebih mudah mengharapkan pihak-pihak lain ikut serta membantu kemajuan perpustakaan.

Bagaimanapun keberadaan KPB hanya akan mendapatkan pengakuan oleh berbagai pihak manakala menjadi organisasi yang hidup. Karena itu KPB dapat mengadakan acara diskusi buku, bekerjasama dengan penerbit untuk membahas buku-buku baru. Bukan tidak mungkin penerbit bersedia memberikan buku gratis (atau potongan harga yang besar) serta mendatangkan penulis buku untuk menjadi narasumber diskusi. Transkrip dan resumenya dapat dicetak dan menjadi bahan bacaan di perpustakaan itu juga. Kegiatan diskusi ini sekaligus mengefektifkan waktu membaca dari para anggotanya.

Akibat lanjutan dari aktivitas ini, pihak media massa dapat dilibatkan untuk meliput semua kegiatan KPB sehingga hal ini sekaligus menjadi media promosi bagi penerbit buku dan kerja public relation yang sangat efektif bagi kepentingan perpustakaan. Apalagi, kalau kemudian KPB tidak sekadar menggelar diskusi, melainkan juga acara-acara lain yang edukatif, informatif ataupun yang sekadar rekreatif.

***
TERUS terang, apa yang dikemukan di atas memang baru sebatas wacana. Namun setidaknya dapat dicoba untuk membedah persoalan perpustakaan yang selama ini hanya berkutat dari itu ke itu saja. Banyak pustakawan hebat yang sekolah sampai ke luar negeri dengan titel bertumpuk-tumpuk, namun ternyata yang dipelajari hanyalah perpustakaan sebagai kata benda, bukan kata kerja. Mereka justru semakin mempertebal rasa curiga pada pengunjung perpustakaan.

Sepanjang yang penulis ketahui, belum banyak upaya yang dilakukan kalangan pustakawan untuk memberdayakan pembaca atau pengunjung perpustakaan. Mereka (pengunjung) hanya diposisikan sebagai pihak yang justru berada di luar orbit perpustakaan itu sendiri. Padahal, apalah artinya sebuah perpustakaan tanpa ada pengunjung atau pembaca buku?

Sementara keberadaan masyarakat penggemar buku (baca: informasi dan ilmu pengetahuan) tidak selalu membutuhkan kehadiran perpustakaan secara fisik. Bukan tidak mungkin bahwa apa yang disebut “perpustakaan” dapat dihadirkan di sebuah desa tanpa harus ada Gedung Perpustakaan sama sekali. Dalam hal ini yang disebut perpustakaan adalah sebuah komunitas masyarakat baca. Sedangkan keberadaan koleksi buku hanyalah menjadi elemen pelengkap.

Sampai di sini, nampaknya yang perlu diubah adalah menyangkut paradigma pengelolaan perpustakaan itu sendiri. Membayangkan perpustakaan, jangan lagi mengharap ada deretan buku di rak dengan petugas yang dingin, tetapi adanya komunitas masyarakat pembaca yang dinamis, aktif dan bergairah. Manusia harus mendapat urutan pertama, setelah itu baru benda. Apakah pandangan antroposentris ini salah? (henri nurcahyo, peminat buku)

sumber ; http://perpustakaanindonesia.blogspot.com
Related Posts with Thumbnails